beranda

Rabu, 14 Agustus 2013

part 2

fazil dan heru masih berjalan dibawah terik matahari menyusuri kampus. mereka berdua sedang mencari asrama  al-ghazali. dikampus ini diwajibkan untuk berasarama selama satu tahun. dalam satu tahun mahasiswa baru digodok masalah keagamaannya dan dikombinasikan dengan kegiatan kreatif-kreatif seperti belajar musik islami, qori', kaligrafi, dan tulis menulis. tinggal mahasiswanya mau belajar atau tidak.
kegiatan didalam asramapun sangat mirip dengan kegiatan kegiatan pondok. tetapi, mau dikatakan pondok kiai mereka kaya' pejabat  pejabat negara yang ada jangka waktunya. dikatan bukan pondok, kegiatan yang ada didalamnya sangat persis dengan pondok, agak mengherankan sedikit.
asrama putra ada 5 asrama dengan  rata-rata tiga lantai. nama asrama asrama yang ada dikampus ini  diambilkan dari tokoh islam yang sangat berpangaruh didalam dunia pendidikan. seperti al ghazali, ibnu rusdy, ibnu khaldun, ibnu sina, dan terakhir al farabi. bukan hanya asrama-asrama saja yang diambilkan nama tokoh berpengaruh, gedung gedung fakultas yang ada dikampus diambilkan nama tokoh sangat berpengaruh diIndonesia.
"nama-nama asramanya koq diambilkan dari tokoh islam ya" fazil bertanya sambil melihat lihat gedung.
"eem, mungkin agar kita bisa mencontoh mereka paling" heru menjawab seadanya.
"bisa diterima". fazil menerima saja.
"tapi kayak gak kreatif ya" giliran heru memberi pernyataan.
"kog bisa, kamu ni ada2 saja"eksperesi fazil yang khas.
"mungkin gak punya ide, jadinya ambil nama orang," memasang muka cerdas.
"hahahaha, bisa jadi juga ya" tertawa ditahan.
akhirnya yang dicari kelihatan juga, asrama al ghazali. tulisan selamat datang lagi terbentang didepan asrama. entah kenapa perasaan heru terasa agak sedih melihat asrama barunya. fazil yang berada disampingnya ikut heran dengan tingkah anak yang satu ini. 
"hey,,, kenapa koq gitu mukanya"
"saya jadi ingat sama orang tua zil, tempat saya disini megah sekali sementara mereka disana masih susah mikiran saya"berdiri didepan asrama dengan lemas
"ya yang penting kita disini berusaha, niatkan untuk membahagiakan orang tua kita"
perasaannya masih sedih ketika harus berhenti mondok dijawa timur sana. keputusan untuk berhenti harus diambil karena keluarga banyak menganjurkan untuk berhenti dan kuliah diluar kota. faktor yang membuat heru sedih dari keberhentiannya mondok karena dia harus berpisah dari  teman teman yang sangat akrab dan seperti keluarga sendiri, teman yang sudah terjalin bertahun-tahun. tetapi sekali lagi, ini demi masa depan. 
"assalamualaium"kakak berpakain jaz hijau menyapa mereka
"walaikumsalam"serentak mereka jawab.
"asrama al ghazali ya" kakak yang baru keluar dari dalam asrama.
"ya kak, kami mahasiswa baru yang asramanya ghazali" fazil menanggapi.
"ya disini asrama al ghazali dek, sudah validasi dikampus"wawancara terus berlanjut.
"sudah kak, kata bu rina disuruh chek in asramanya"gilirian heru menjawab.
"ya memang seperti itu prosedurnya, ayo masuk" ajak kakak berjaz biru.
mereka  diajak kedalam melihat gedung dan kamar asrama al ghazali. tampak orang-orang sedang sibuk merapikan kamar mereka, saling kenalan dengan teman baru. dilantai satu ada sejumlah kakak sedang duduk didepan meja berkopyah hitam dan berbaju putih dikelilingi mahasiswa baru. kalau dilihat mereka sedang di data dan dites. kakak yang bersama heru dan fazil sambil menjelaskan apa yang sedang mereka lihat sekarang. 
"kayak mau wisata aja ya zil"bisik heru ke telinga fazil.
"hush, awas kedengaran ru" hardik fazil.
heru memang selalu menanggapi sesuatu yang dia lihat dengan sesuatu yang konyol, bisa membuat orang menahan tawa. pernah kejadian ketika di bis perjalanan mau kemalang ada pengamen nenek  nenek menyanyikan lagunya  diiringi dengan gitar kecil. entah apa yang ada dipikiran heru melihat nenek yang berdiri didepannya mulut diwajahnya bisa tersenyum. padahal lagu yang dinyanyikan nenek ini lagu sedih.
"kenapa kog senyum-senyum"fazil heran.
"lagi kebayang sesuatu"masih menahan tawanya.
“jangan bilang sama pengamen itu”tebak fazil.
“tau aja kamu zil,hehehe”tambah tertawa.
“emang kenapa”tanya fazil penasaran.
“nenek sekarang gak ketinggalan jaman ya”heru menjawab.
“lha, kog bisa sih”ikut tersenyum.
“cobak nenek dulu mana bisa nyanyi sambil pegang gitar kayak nenek itu”
Secara refleks fazil menutup mulutnya menahan tawa.
tiba-tiba suara keras dari telingan kanan.
“hei, ngalamun ja” fazil menyadarkan heru dari lamunan.
Kaget otomatis menyadarkan lamunannya satu tahun yang lalu. Heru melihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 09.00  tak sadar sudah hampir setengah jam lebih dia melamun.
“bikin kaget ja kamu zil”berdiri mengambil posisi berbaring dikasur
“malah tidur lagi”hampir kayak ibu yang menyuruh anaknya.
“Iyo wes”
Suratan takdir akan membawa segalanya
Tergantung ayunan diperahu saja
Kita akan sampai dilaut luas
Terima tantangan ombak
Terima tantangan mental
Apakah masih ingat pelajaran
Nelayan di daratan
Jangan sampai kehilangan keseimbangan didalam perahu
Jangan lepaskan dayunganmu


2 komentar:

  1. Polot tapi menarik!

    Apalagi puisi yang dibagian terakhir, ada yang lain di sana!

    BalasHapus
  2. terima kasih annas atas komentarnya
    saya harus banyak belajar lagi

    BalasHapus