fazil dan heru masih berjalan dibawah
terik matahari menyusuri kampus. mereka berdua sedang mencari asrama
al-ghazali. dikampus ini diwajibkan untuk berasarama selama satu tahun.
dalam satu tahun mahasiswa baru digodok masalah keagamaannya dan dikombinasikan
dengan kegiatan kreatif-kreatif seperti belajar musik islami, qori', kaligrafi,
dan tulis menulis. tinggal mahasiswanya mau belajar atau tidak.
kegiatan didalam asramapun sangat mirip
dengan kegiatan kegiatan pondok. tetapi, mau dikatakan pondok kiai mereka kaya'
pejabat pejabat negara yang ada jangka waktunya. dikatan bukan pondok,
kegiatan yang ada didalamnya sangat persis dengan pondok, agak mengherankan
sedikit.
asrama putra ada 5 asrama dengan
rata-rata tiga lantai. nama asrama asrama yang ada dikampus ini
diambilkan dari tokoh islam yang sangat berpangaruh didalam dunia
pendidikan. seperti al ghazali, ibnu rusdy, ibnu khaldun, ibnu sina, dan
terakhir al farabi. bukan hanya asrama-asrama saja yang diambilkan nama tokoh
berpengaruh, gedung gedung fakultas yang ada dikampus diambilkan nama tokoh
sangat berpengaruh diIndonesia.
"nama-nama asramanya koq diambilkan
dari tokoh islam ya" fazil bertanya sambil melihat lihat gedung.
"eem, mungkin agar kita bisa
mencontoh mereka paling" heru menjawab seadanya.
"bisa diterima". fazil menerima
saja.
"tapi kayak gak kreatif ya"
giliran heru memberi pernyataan.
"kog bisa, kamu ni ada2
saja"eksperesi fazil yang khas.
"mungkin gak punya ide, jadinya ambil
nama orang," memasang muka cerdas.
"hahahaha, bisa jadi juga ya"
tertawa ditahan.
akhirnya yang dicari kelihatan juga,
asrama al ghazali. tulisan selamat datang lagi terbentang didepan asrama. entah
kenapa perasaan heru terasa agak sedih melihat asrama barunya. fazil yang
berada disampingnya ikut heran dengan tingkah anak yang satu ini.
"hey,,, kenapa koq gitu mukanya"
"saya jadi ingat sama orang tua zil,
tempat saya disini megah sekali sementara mereka disana masih susah mikiran
saya"berdiri didepan asrama dengan lemas
"ya yang penting kita disini berusaha,
niatkan untuk membahagiakan orang tua kita"
perasaannya masih sedih ketika harus
berhenti mondok dijawa timur sana. keputusan untuk berhenti harus diambil
karena keluarga banyak menganjurkan untuk berhenti dan kuliah diluar kota.
faktor yang membuat heru sedih dari keberhentiannya mondok karena dia harus
berpisah dari teman teman yang sangat akrab dan seperti keluarga sendiri,
teman yang sudah terjalin bertahun-tahun. tetapi sekali lagi, ini demi masa
depan.
"assalamualaium"kakak berpakain jaz hijau menyapa mereka
"walaikumsalam"serentak mereka jawab.
"walaikumsalam"serentak mereka jawab.
"asrama al ghazali ya" kakak yang baru keluar dari dalam asrama.
"ya kak, kami mahasiswa baru yang asramanya ghazali" fazil
menanggapi.
"ya disini asrama al ghazali dek, sudah validasi
dikampus"wawancara terus berlanjut.
"sudah kak, kata bu rina disuruh chek in asramanya"gilirian heru
menjawab.
"ya memang seperti itu prosedurnya, ayo masuk" ajak kakak berjaz
biru.
mereka diajak kedalam melihat gedung
dan kamar asrama al ghazali. tampak orang-orang sedang sibuk merapikan kamar
mereka, saling kenalan dengan teman baru. dilantai satu ada sejumlah kakak
sedang duduk didepan meja berkopyah hitam dan berbaju putih dikelilingi
mahasiswa baru. kalau dilihat mereka sedang di data dan dites. kakak yang
bersama heru dan fazil sambil menjelaskan apa yang sedang mereka lihat
sekarang.
"kayak mau wisata aja ya zil"bisik heru ke telinga fazil.
"hush, awas kedengaran ru" hardik fazil.
heru memang selalu menanggapi sesuatu yang dia lihat dengan
sesuatu yang konyol, bisa membuat orang menahan tawa. pernah kejadian ketika di
bis perjalanan mau kemalang ada pengamen nenek nenek menyanyikan lagunya
diiringi dengan gitar kecil. entah apa yang ada dipikiran heru melihat
nenek yang berdiri didepannya mulut diwajahnya bisa tersenyum. padahal lagu
yang dinyanyikan nenek ini lagu sedih.
"kenapa kog senyum-senyum"fazil heran.
"lagi kebayang sesuatu"masih menahan tawanya.
“jangan bilang sama pengamen itu”tebak fazil.
“tau aja kamu zil,hehehe”tambah tertawa.
“emang kenapa”tanya fazil penasaran.
“nenek sekarang gak ketinggalan jaman ya”heru menjawab.
“lha, kog bisa sih”ikut tersenyum.
“cobak nenek dulu mana bisa nyanyi sambil pegang gitar
kayak nenek itu”
Secara refleks fazil menutup mulutnya menahan tawa.
tiba-tiba suara keras dari telingan kanan.
“hei, ngalamun ja” fazil menyadarkan heru dari lamunan.
Kaget otomatis menyadarkan lamunannya satu tahun yang lalu. Heru
melihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 09.00 tak sadar sudah hampir setengah jam lebih dia
melamun.
“bikin kaget ja kamu zil”berdiri mengambil posisi berbaring
dikasur
“malah tidur lagi”hampir kayak ibu yang menyuruh anaknya.
“Iyo wes”
Suratan takdir akan membawa segalanya
Tergantung ayunan diperahu saja
Kita akan sampai dilaut luas
Terima tantangan ombak
Terima tantangan mental
Apakah masih ingat pelajaran
Nelayan di daratan
Jangan sampai kehilangan keseimbangan didalam perahu
Jangan lepaskan dayunganmu
Polot tapi menarik!
BalasHapusApalagi puisi yang dibagian terakhir, ada yang lain di sana!
terima kasih annas atas komentarnya
BalasHapussaya harus banyak belajar lagi